tugas 8 masalah dalam kelas dan upaya pemecahanya
masalah dalam kelas dan upaya pemecahannya
Masalah pokok
yang sering dihadapi oleh guru, baik guru pemula maupun yang sudah
berpengalaman adalah masalah pengelolaan kelas / manajemen kelas. Dengan
demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang
efektif. Pengelolaan kelas/ manajemen kelas adalah suatu usaha yang dengan
sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran. Kesimpulan sederhananya
adalah pengelolaan kelas merupakan kegiatan pengaturan kelas untuk kepentingan
pengajaran. Dalam konteks yang demikian itulah pengelolaan kelas penting
untuk diketahui oleh siapapun juga yang menerjunkan dirinya kedalam dunia
pendidikan.
Dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar tujuan dari pembelajaran dapat terwujud. Pada saat mengajar seorang guru akan menghadapi beberapa masalah dalam kelasnya.
Masalah yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran dapat dibagi menjadi dua, yaitu masalah pengajaran dan masalah pengelolaan kelas.
Menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12), masalah pengelolaan kelas dibagi menjadi dua kategori masalah, yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru akan tepat jika guru tersebut dapat mengidentifikasi masalah dengan tepat dan dapat menentukan strategi penanggulangan yang tepat pula.
Masalah individu akan muncul karena dalam setiap individu ada kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan ingin mencapai harga diri. Ketika kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu tersebut akan berusaha mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Rodolf Dreikurs dan Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokannya menjadi empat, yaitu:
1. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain ( attention getting behaviors).
2. Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors).
3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
4. Peragaan ketidakmampuan (passive behaviors).
Sedangkan masalah kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
Kelas kurang kohensif.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya.
Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
Semangat kerja rendah.
Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ada banyak hal yang perlu diperhatikan agar tujuan dari pembelajaran dapat terwujud. Pada saat mengajar seorang guru akan menghadapi beberapa masalah dalam kelasnya.
Masalah yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran dapat dibagi menjadi dua, yaitu masalah pengajaran dan masalah pengelolaan kelas.
Menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12), masalah pengelolaan kelas dibagi menjadi dua kategori masalah, yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru akan tepat jika guru tersebut dapat mengidentifikasi masalah dengan tepat dan dapat menentukan strategi penanggulangan yang tepat pula.
Masalah individu akan muncul karena dalam setiap individu ada kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan ingin mencapai harga diri. Ketika kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu tersebut akan berusaha mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Rodolf Dreikurs dan Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokannya menjadi empat, yaitu:
1. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain ( attention getting behaviors).
2. Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors).
3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
4. Peragaan ketidakmampuan (passive behaviors).
Sedangkan masalah kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
Kelas kurang kohensif.
Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya.
Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
Semangat kerja rendah.
Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
B. Kebijakan Penanganan Masalah Dalam Kelas
1. Masalah
Emosi
Menurut
Hurlock (dalam Mulyadi, 2004 : 23) pengendalian emosi sangatlah penting jika
orang tua menginginkan anaknya mampu berkembang secara normal setidaknya ada
dua alasan mengapa pengendalian emosi penting bagi anak. Pertama, masyarakat
mengharapkan anak untuk mulai belajar mengendalikan emosi dan masyarakat
menilai apakah anak berhasil melakukannya. Anak akan mempelajari ekspresi emosi
yang dapat diterima oleh kelompok bergaulnya dan mana yang tidak diterima oleh
kelompok bergaulnya. Dengan demikian, anak hanya akan menampilkan ekspresi yang
diterima kelompok. Kedua, pola ekspresi emosi termasuk amarah telah dipelajari
oleh anak sejak kecil. Semakin dini anak belajar mengendalikan emosinya,
semakin mudah pula anak mengendalikan emosinya di masa yang akan datang.
Peran
Guru dalam Pengembangan atau Pembelajaran Emosi pada Anak
Terdapat
lima cara/ strategi pengembangan emosi pada anak , yaitu:
a. Kemampuan
untuk mengenali emosi diri.
b. Kemampuan
untuk mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat
c. Kemampuan
untuk memotivasi diri
d. Kemampuan
untuk memahami perasaan orang lain
e. Kemampuan
untuk membina hubungan dengan orang lain
2 2. Masalah
Perilaku Sosial
Menurut
Peter M. Blau dalam M. Basrowi dan Soenyono (2004:194) perilaku sosial adalah
suatu perubahan aktifitas diantara 11 sekurang-kurangnya dua orang. Jadi
perilaku sosial adalah bentuk aktifitas yang timbul karena adanya interaksi
antara orang dengan orang atau orang dengan kelompok. Perilaku sosial adalah
aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap orang lain atau sebaliknya dalam
rangka memenuhi diri atau orang lain yang sesuai dengan tuntutan
sosial(Hurlock, B. Elizabeth, 1995: 262 ).
Perilaku
sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk
menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001: 22). Sebagai bukti bahwa
manusiadalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat
melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain. Oleh karena
itu, manusia dituntut mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak mengganggu
hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat .
Berdasarkan
uraian diatas perilaku sosial dapat disimpulkan sebagai segala aktifitas manusia
yang merupakan bentuk respon terhadap interaksi yang terjadiantara remaja
dengan orang lain atau kelompok sosial. Perilaku dapat terwujud dalam gerakan
atau sikap dan ucapan. Perilaku seseorang terjadi disebabkan adanya berbagai
kebutuhan yang harus dipenuhi, kebutuhan itu antara lain kebutuhan seseorang
untuk dapat diterima oleh suatu kelompok atau orang lain dan kebutuhan
seseorang untuk menghindar dari penolakan suatu kelompok atau orang lain.
3 3. Masalah
Moral
Perkembangan
moral (moral development) berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain,
(Santrok : 287). Sedangkan Gibbs, 2003; Power, 2004; Walker dan Pitts, 1998
(dalam Papalia, Old dan Feldman, 117 :2009) menyatakan bahwa perkembangan moral
merupakan perubahan penalaran, perasaa, dan prilaku tentang standar menganai
benar atau salah. Sementara perkembangan moral memiliki dimensi intrapersonal
yang mengatur aktivitas seseorang ketika dia tidak terlibat dalam interaksi
sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dan
penyelesaian komplik.
Perilaku
moral berarti perilaku yang menyesuaikan dengan kode moral dari kelompok
sosialnya. Moral berasal dari bahsa latin: mores berarti tatakrama atau kebiasaan.
Perilaku moral dikendalikan oleh konsep moral, yakni aturan-aturan dalam
bertingkah laku, dimana anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan pola
perilaku yang diharapkan oleh masyarakatnya, sedangkan perilaku immoral
adalah perilaku yang gagal menyesuaikan pada harapan sosial.
Perilaku tersebut tidak dapat diterima oleh norma-norma sosial.
Perilaku
unmoral adalah perilaku yang tidak menghiraukan harapan
dari kelompok sosialnya. Perilaku ini cenderung terlihat pada kanak-kanak.
Ketika masih kanak-kanak, anak tidak diharapkan untuk mengenal seluruh tata
krama dari suatu kelompok. Begitu anak memasuki usia remaja dan menjadi anggota
suatu kelompok, anak dituntut untuk bertingkah laku sesuai dengan kebiasaan
kelompoknya. Tingkah laku yang sesuai dengan aturan tidak hanya sesuai dengan
dasar-dasar yang ditetapkan secara sosial tetapi juga perlu diikuti
secara suka rela. Hal ini terjadi pada otoritas eksternal maupun internal.
Dalam perkembangan moral kelak anak-anak harus belajar mana yang
benar dan mana yang salah. Kemudian, begitu anak bertambah besar, ia
harus tahu alasan mengapa sesuatu dianggap benar sementara yang lain tidak.
Dengan demikian, anak perlu dilibatkan dalam aktivitas kelompok, tetapi yang
terpenting tetap perlu mengembangkan harapan melakukan mana yang baik dan mana
yang buruk.
4 4. Masalah
Belajar
Masalah
adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat
sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya
sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa
masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi
diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan
menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan
yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat
didefinisikan "Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya".
Menurut
( Garry dan Kingsley, 1970 : 15 ) "Belajar adalah proses tingkah laku
(dalam arti luas), ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan".
Sedangkan
menurut Gagne (1984: 77) bahwa "belajar adalah suatu proses dimana suatu
organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman". Dari definisi
masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan
sebagai berikut :"Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang
dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan".
Kondisi
tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa
kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami
oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa
murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dalam
interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar
selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis
berkenaan dengan bahan belajar.
C. Macam-Macam Permasalahan Dalam Manajemen
Kelas
1. Masalah
individu
Masalah
individu akan muncul karena dalam setiap individu ada kebutuhan untuk diterima
dalam kelompok dan ingin mencapai harga diri. Ketika kebutuhan ini tidak dapat
terpenuhi melalui cara-cara yang wajar maka individu tersebut akan berusaha
mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Rodolf Dreikurs dan Cassel
yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni mengelompokannya menjadi empat,
yaitu:
a. Tingkah
laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain ( attention getting
behaviors).
b. Tingkah
laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors).
c. Tingkah
laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
d. Peragaan
ketidakmampuan (passive behaviors).
2. Masalah
Kelompok
Masalah
kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori
masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
a. Kelas
kurang kohensif.
b. Kelas
mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya.
c. Penyimpangan
dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya.
d. Membesarkan
hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.
e. Kelompok
cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
f. Semangat
kerja rendah.
g. Kelas
kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Untuk
mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang
dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
1. Behavior
– Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang
mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk”
individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola
kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement(untuk
membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk
mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan
reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak
tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
2. Socio-Emotional
Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari
penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik
didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik –
guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting
bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
Dalam
hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness,
genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai
manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut
pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding).
Sedangkan
Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk
membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa
yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan
sebagai alternatif penyelesaian.
Selain
itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan
peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan
menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik
agar committed terhadap rencana yang telah dibuat memupuk
keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta
didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih
baik. Sementara itu, Rudolf
Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process,
dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung
jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak
mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.
3. Group
Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini
adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan
tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif.
Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip
dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual
expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola
persahabatan); (c) norm; (d) communication; (d) cohesiveness.
4. Pendekatan
Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban
suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku
siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban
atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
a. Perintah
dan larangan
b. Penekanan
dan penguasaan
c. Penghukuman
dan pengancaman
d. Pendekatan
perintah dan larangan
5. Pendekatan
Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan
seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk
melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat
perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan
pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada
diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
a. Tindakan
pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan
pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
b. Meremehkan
sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
c. Memberi
peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
d. Menukar
dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
e. Menukar
kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
f. Mengalihkan
tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
6. Pendekatan
membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang
peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang
benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar
dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta
didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan
pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil
bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering
terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam
pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi
ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih
rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar
bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak
pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.
Daftar Pustaka
Ahmadi,
Abu Dan Tri Prasetya, Joko. 2005. Strategi Belajar Mengajar.
Bandung: Pustaka Setia
Hamalik,
Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, cet.
II. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003.
Djamarah,
Bahri, Syaiful, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2006
Gulo,
W., Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Gramedia, 2002.
Bagus sekali materinya
BalasHapusMaterinya sangat berguna
BalasHapusBagus dan sangat membantu artikelnya terimakasih
BalasHapusartikelnya bagus kk
BalasHapusmaterinya bagus
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus