tugas 12 tahapan penanggulangan disiplin kelas
Tahapan Penanggulangan Disiplin Kelas
A. Tindakan Preventif
dalam Pengelolaan Kelas
Tindakan
preventif dalam pengelolaan kelas merupakan pencegahan terhadap perilaku
menyimpang.1 Menurut J.J Hasibuan, yang dimaksud dengan tindakan preventif
dalam pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang berhubungan dengan penciptaan
dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dengan tujuan untuk mencegah
timbulnya perilaku yang mengganggu kegiatan belajar.
Tindakan
preventif merupakan langkah awal yang dilakukan oleh guru dalam mengelola
kelas. Pengelolaan kelas itu sendiri adalah segala usaha yang diarahkan untuk
mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat
memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.
Dari
pengertian tersebut dapat diketahui bahwa dalam setiap proses pembelajaran
seorang guru harus telah merencanakan dan mengusahakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran. Agar terhindar dari kondisi yang
merugikan dan mengkibatkan tidak akan tercapainya tujuan pendidikan maka
seorang guru haruslah melakukan suatu usaha. Usaha yang dilakukan tersebut
adalah tindakan pencegahan/tindakan preventif.
Tujuan
dari pelaksanaan tindakan priventif ini adalah untuk menciptakan kondisi
pembelajar yang menguntungkan. Dimensi pencegahan dapat berupa tindakan guru
dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan dan lingkungan sosio
emosional.
a. Kondisi
dan situasi pembelajaran
1) Kondisi
fisik
Kondisi
fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil perbuatan
belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal
mendukung meningkatnya intensitas proses perbuatan belajar peserta didik dan
mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran.
Lingkungan fisik yang
dimaksud adalah:
a) Ruangan
tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran Ruangan tempat pembelajaran harus
memungkinkan untuk siswa bergerak leluasa tidak berdesak-desakan sehingga tidak
saling mengganggu antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya. Besarnya
ruangan kelas sangat tergantung pada berbagai hal antara lain:
(1) Jenis
kegiatan, apakah kegiatan pertemuan tatap muka dalam kelas ataukah kerja
di ruang praktikum.
(2) Jumlah
peserta didik yang melakukan kegiatan- kegiatan bersama secara klasikal secara
relatif membutuhkan ruangan rata-rata yang lebih kecil perorang bila
dibandingkan dengan kebutuhan ruangan untuk kegiatan kelompok. Jika ruangan
tersebut mempergunakan hiasan, pakailah hiasan- hiasan yang mempunyai nilai
pendidikan yang dapat secara langsung mempunyai ‘daya sembuh” bagi pelanggaran
disiplin. Misalnya dengan menempelkan pajangan dengan kata-kata baik, anjuran,
dan sebagainya.Mengenai masalah ukuran kelas ini, berdasarkan hasil penelitian
Pilkington terhadap siswa sekolah dasar dan menengah, jauh dari jumlah anak
didik yang ideal menurut kesepakatan para ahli. Kebanyakan mereka menyepakati
bahwa ukuran kelas yang ideal adalah terdiri dari 24 siswa.
b) Pengaturan tempat duduk
Hal
yang terpenting dalam pengaturan tempat duduk ini adalah memungkinkan
terjadinya tatap muka sehingga dengan itu guru juga sekaligus bisa
memperhatikan tingkah-laku peserta didik. Dalam pengaturan tempat duduk,
sebaiknya ukuran tempat duduk siswa itu jangan terlalu besar agar mudah
diubah-ubah formasinya.
c) Ventilasi dan
pengaturan cahaya
Ventilasi
harus cukup untuk menjamin kesehatan peserta didik. Udara yang sehat akan cukup
apabila ventilasinya baik, sehingga semua peserta didik bisa menghirup udara
segar yang cukup mengandung oksigen. Jendela dalam ruangan juga harus bisa
menjamin cahaya matahari masuk ke dalam ruangan, sehingga peserta didik bisa
melihat tulisan dengan jelas, baik tulisan di papan tulis, di buku catatan dan
sebagainya. Cahaya sebaiknya datang dari sebelah kiri, cukup terang, akan
tetapi tidak menyilaukan bagi peserta didik.
d) Pengaturan penyimpanan
barang-barang
Barang-barang
hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau diperlukan dan
akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai
praktisnya tinggi dan dapat disimpan dalam ruangan kelas seperti buku
palajaran, pedoman kurikulum dan sebagainya hendaknya disimpan dengan
sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kegiatan peserta didik.
2) Kondisi
sosio-emosional
Suasana
sosio-emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap
proses pembelajaran, kegairahan peserta didik merupakan efektivitas tercapainya
tujuan pengajaran.
3) Kondisi
organisasional
Kegiatan
rutin yang secara organisasional yang dilakukan baik tingkat kelas maupun
tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah dalam pengelolaan kelas. Dengan
kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan telah dikomunikasikan kepada
siswa secara terbuka sehingga jelas pula bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya
pada diri setiap siswa kebiasaan yang baik. Disamping itu mereka akan terbiasa
bertingkah laku secara teratur dan penuh disiplin pada semua kegiatan yang
bersifat rutin itu
B. Tindakan Kuratif
dalam pengelolaan kelas
Kegiatan yang bersifat penyembuhan
mengikuti langkah sebagai berikut :
1.
Mengidentifikasi masalah
Pada
langkah ini, guru mengenal atau mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas
yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis
penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik
melakukan penyimpangan tersebut.
2.
Menganalisis masalah
Pada
alngkah ini, guru menganalisi penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar
belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.
3.
Menilai alternatif-alternatif
pemecahan
Pada
langkah ini guru menilai dan memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap
tepat dalam menanggulangi masalah.
4.
Mendapatkan balikan
Pada
langkah ini guru melaksanakan monitoring, dengan maksud menilai keampuhan
pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yng
sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan kilas balik ini dapat dilaksanankan
dengan diadakan pertemuan dengan para peserta didik. Maksud pertemuan perlu
dijelaskan oleh guru sehingga peserta didik mengetahui serta menyadari bahwa
pertemuan diusahakan dengan penuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan, baik
untuk peserta didik maupun sekolah.
Daftar Rujukan
Syaiful
Bahri Djamarah, 1994, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha
Nasional, h. 90.
Ekosiswoyo, R dan Rachman, M. 2000. Manajemen
Kelas: Sesuai dengan Kurikulum
D-II PGSD.
Semarang: CV IKIP
Semarang Press.
Bagaimana cara seorang guru mengatasi permasalahan di sekolah apabila siswa melakukan suatu pelanggaran di sekolah???
BalasHapusMaterinya sangat bermanfaat
BalasHapussangat berguna materinya kk
BalasHapusiya semoga bermanfaat bagikita semua
BalasHapusmaterinya bagus
BalasHapusTrimakasih telah berbagi informasi, materi ini sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapus